Sape Sonok, Budaya Madura Yang Terus Digemari
Cultural Treasures, Get Inspired

Sape Sonok, Budaya Madura Yang Terus Digemari

Sape Sonok merupakan salah satu kebudayaan yang terus digemari di Kabupaten Sumenep. Kebudayaan sape sonok berasal dari bahasa Madura. Dalam berbagai kontes Sape Sonok, sapi diadu kecantikannya dengan cara didandani, selain itu adu kekompakan antara sapi, yakni kekompakan mengangkat kakinya dan memasukkannya ke atas papan yang telah disediakan dengan rapi.

Sape sonok yang sangat lumrah diiringi dengan musik tradisional Madura yang disebut saronen. Saat diiringi saronen kedua sapi yang berlomba akan berlenggak-lenggok indah ketika berjalan.

Kriteria penilaian dalam perlombaan sape sonok, ketika masuk gapura (gawang) yang dibuat pas dengan ukuran sapi, kakinya harus naik dan berhenti kira-kira lima menit di papan yang sudah disediakan. Jika kaki melewati papan atau diangkat, nilainya juga dikurangi. Badan sapi menyentuh pintu gapura, juga nilainya dikurangi.

“Ada kriteria tersendiri kalau sape sonok, beda dengan karapan sapi. Kalau sape sonok harus cantik dan badannya harus bagus. Pertubuhan badannya juga jadi pertimbangan, karena juga masuk penilaian,” kata salah satu pemilik sapi sonok, Halim.

Menurut Halim ciri-ciri sape sanok yang cantik, badannya harus bagus, panjang, gemuk dan bulunya agak merah. Perkembangan sape sanok terbanyak didominasi Kabupaten Sumenep menyusul kemudian di Kabupaten Pamekasan.

Khusus di Kabupaten Sumenep sape sanok banyak di Kecamatan Lentang. “Dulu, sape sonok digelar sebelum acara kerapan sapi dimulai, namanya sapi pajangan. Sekarang, karena perubahan zaman berubah nama menjadi sape sanok,” ujarnya.

“Sape sano ternyata lebih banyak penggemarnya dari pada kerapan sapi. Ini terjadi karena kerapan sapi itu biayanya lebih banyak, terutama pada pemeliharaan seperti pemberian jamu,” tambahnya. (MediaMadura.com)

  • 12
    Shares

Facebook Comments