Menengok Kekayaan Budaya di Museum Keraton Sumenep
Cultural Treasures, Get Inspired

Menengok Kekayaan Budaya di Museum Keraton Sumenep

Tak banyak yang tahu, pada masanya di Madura pernah berdiri Kerajaan Sumenep yang keberadaannya cukup dihormati di dunia. Paling tidak, Kerajaan Inggris pun pernah mengirimkan hadiah untuk raja Sumenep berupa kereta kencana.

Fakta itu bisa kita dapatkan dengan mengunjungi Museum Keraton Sumenep. Museum yang terletak di Jalan Dr. Soetomo, Kelurahan Pajagalan, Kecamatan dan Kabupaten Sumenep, itu dikelola Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga,  yang kantornya juga berada di lingkungan Keraton Sumenep.

Museum yang ditetapkan melalui Penetapan Presiden RI tahun 1959 ini menyimpan beragam peninggalan sejarah bangwasan dan keluarga Keraton Sumenep . Sebagai catatan, museum memiliki 480 koleksi yang digolongkan dalam beberapa jenis.

Sesuai namanya, bangunan yang digunakan untuk museum menempati sejumlah bangunan milik Keraton Sumenep. Luas bangunan yang diperuntukkan untuk museum sekitar 2.000 m², terbagi menjadi tiga bagian.

Museum bagian pertama berada di luar keraton, tempat loket karcis masuk berada. Dulu, awalnya bangunan tersebut merupakan pat bangunan yang digunakan untuk memarkir kereta milik keraton (kamarrata).

Setelah dijadikan museum, bangunan ini digunakan untuk menyimpan atau memajang kereta kencana yang merupakan peninggalan Keraton Sumenep pada masa pemerintahan Sultan Abdurrachman (1812-1854).

Kereta kencana tersebut merupakan hadiah dari Kerajaan Inggris. Letak kereta kencana tersebut berdampingan dengan duplikat kereta kebesaran pada masa Kerajaan Majapahit.

Di bangunan pertama museum ini juga terdapat koleksi Al-Qur’an yang berukuran panjang empat meter, lebar tiga meter dengan berat sekitar 500 kilogram. Kitab itu  ditulis seorang kaligrafer wanita asal Desa Bluto, Yanti, 2005 lalu. Yanti menyelesaikan kitab tersebut selama enam bulan.

Museum bagian kedua berada di dalam halaman keraton. Bangunan ini dulunya merupakan kantor Koneng, ruang kerja Raja Sumenep dalam memimpin kerajaan ketika itu. Bangunan ini memiliki lima ruangan yang dipergunakan untuk memajang sejumlah koleksi museum.

Ruang I dikenal dengan ruang tentang daur hidup dan ritual. Di dalam ruangan ini terdapat koleksi berupa peralatan upacara tradisional, pendupaan dan lampu, serta alat upacara daur hidup.

Ruang II dikenal dengan ruang tentang perlengkapan hiasan. Di sini tersimpan koleksi berbagai hiasan, alat berhias, dan alat untuk meramu jamu tradisional.

Ruang III dikenal dengan ruang kesenian. Di dalam ruangan III ini terdapat sejumlah koleksi alat kesenian tradisional maupun alat musik keislaman.

Ruang IV dikenal dengan ruang keramik. Di dalam ruangan IV ini tersimpan aneka benda keramik abad 18, guci keramik Tiongkok dan Thailand, dan berbagai bentuk keramik asing lainnya, seperti keramik Eropa.

Terakhir adalah Ruang V, yang dikenal sebagai ruang senjata dan naskah kuno. Di dalam ruang ini tersimpan sejumlah koleksi persenjataan dan naskah kuno, seperti keris, tombak, perlengkapan prajurit, dan naskah-naskah kuno yang ditulis di daun lontar.

Salah satu koleksi yang tak kalah pentingnya di dalam ruangan ini adalah koleksi kitab suci Al-Qur’an. Kabar yang beredar, Al-Qur’an peninggalan Raja Sumenep, Sultan Abdurrachman Pakunataningrat, memiliki daya magis. Konon Al-Qur’an itu ditulis langsung Sultan Abdurrachman hanya dalam waktu semalam. Ditulis menggunakan tinta Kalam, yaitu jelaga dari asap lampu tempel, dengan alat tulis bulu ayam.

Selain koleksi tersebut, di belakang bangunan kedua ini terdapat sejumlah koleksi berupa patung-patung dan yoni peninggalan Majapahit, serta kerangka paus yang berada dalam bilik kaca. Paus tersebut terdampar di Desa Kertasada, Kecamatan Kalianget,  pada 1977 lalu, berukuran panjang 13 m, tinggi 1,75 m dan berat 4 ton.

Museum bagian ketiga berada di samping kiri dari bangunan museum kedua. Di atas pintu masuk bangunan museum ini  tertulis ‘Rumah Penyepen’. Dulu bangunan ini digunakan Bindara Saod, raja Sumenep yang bergelar R. Tumenggung Tirtanegara  (1750-1762), untuk menyepi. Bangunan ini terdiri atas lima ruangan, yaitu teras rumah, kamar depan bagian barat, kamar depan bagian timur, kamar belakang bagian barat dan kamar belakang bagian timur.

Museum ini tergolong ramai dikunjungi oleh wisatawan, local maupun manca negara. Peninggalan sejarah KeratonSumenep yang menjadi koleksi museum itu memang mengundang keingintahuan pengunjung. Apalagi lokasi museum pun strategis, berada di jantung Kota Sumenep dan dekat dengan  tiga kawasan wisata utama, yaitu Keraton Sumenep, Museum Keraton Sumenep dan Masjid Jami Sumenep. (Sportourism.id)

  • 16
    Shares

Facebook Comments