Jamasan Keris, Tradisi Turun Temurun Leluhur Keraton Sumenep
Get Inspired, Hot News

Jamasan Keris, Tradisi Turun Temurun Leluhur Keraton Sumenep

Tradisi Jamas Pusaka merupakan salah satu aktivitas membersihkan pusaka, bisa berupa keris maupun tombak yang dilakukan pemiliknya, baik yang didapat melalui warisan leluhur atau dari hasil membeli. Tradisi ini dilakukan setiap tanggal 1 Muharam (Syura) dalam kalender Hijriyah, mulai dari pagi sampai sebelum azan magrib.

Bahan dasar yang digunakan untuk melakukan penjamasan ialah minyak kelapa yang dibuat sendiri oleh pemiliknya. Minyak kelapa yang akan dibuat untuk menjamas pusaka bukan sembarang minyak kelapa, tapi minyak yang dibuat dari kelapa yang masih hujau kulitnya dan tidak menyentuh tanah.

Penjamasan juga tidak boleh dilakukan oleh semua orang. Hanya orang dewasa dan mengerti tentang pusaka yang boleh membersihkan benda pusaka yang termasuk benda antik tersebut.

Untuk melakukan penjamasan pusaka memang tidak ada syarat khusus yang perlu dilakukan, misalnya harus mengambil wudu’ lebih dulu dan sebagainya. Namun, biasanya, pasca melakukan jamas pusaka, sang pemiliki melakukan puasa selama sepulu hari, dari tanggal 1-10 Muharam.

Ritual penyerahan salah satu pusaka peninggalan raja Sumenep, Madura, Jawa Timur, pasca dijamas dilakukan pada Senin, 2 Oktober 2017.

Penyerahan itu dilakukan oleh empu keris asal Desa Aeng Totong, Kecamatan Saronggi, kepada keturunan Raja, R Idris. Saat ini, R. Idris menjabat sebagai Plt Sekretaris Daerah (Sekda) pasca Sekda definitif Hadi Soetarto mengajukan Masa Persiapan Pensiun (MPP) beberapa waktu lalu.

“Jamasan keris yang berlangsung sejak kemarin hingga hari ini, memang saya atur, saya setting supaya bisa dinikmati wisatawan manca negara,” kata Kepala Kadisparbudpora Sufianto, saat ditemui di Pandapa Agung, seperti dilansir koranmadura.com, Senin, 2 Oktober 2017.

Menurutnya, pusaka yang diserahkan itu merupakan pusaka keraton. Keris tersebut merupakan turun temurun dari leluhur keraton Sumenep. Keris dijamas bersama keris kuno (sepuh) milik empu keris di Desa Aeng Tongtong.

“Namanya saya tidak tahu, karena tidak sampai kesitu, saya tidak ke nama karena lebih ke aspek kerisnya pada pusaknya,” jelasnya saat ditanya nama pusaka yang dijamas saat itu.

Saat prosesi penyerahan tersebut berbarengan dengan kunjungan sekitar 110 wisatawan asing di kabupaten ujung timur Pulau Madura ini. Mereka dikabarkan berasal dari Jerman dan Australia.

Prosesi penyerahan tersebut bisa dibilang cukup unik. Sebelum diserahkan terlebih dahulu diarak dari depan kantor Disparbudpora ke dalam Pendopo Keraton. Saat itu diiringi musik tradisional saronen, serta berbagai macam buah-buhan, seperti sawu, kelapa, pisang, kacang tanah serta buah-buahan lain.

Sementara itu Plt Sekda R. Idris mengatakan, jamasan keris merupakan tradisi yang dilakukan empu keris asal Desa Aeng Tongtong setiap tahun, termasuk pusaka keris milik keraton.

Sementara pusaka peninggalan keraton yang dijamas tahun ini diberi nama “Sodeng”. Pusaka itu bentuknya seperti pusaka yang dipakai kesultanan Arab atau kesultanan Brunai. Bentuknya seperti pedang namun motifnya pusaka.”Pusaka (milik keraton) itu diserahkan pada Sabtu kemarin,” katanya.

Dikatakan, proses penjamasan membutuhkan waktu cukup lama. Karena didalamnya terdapat ritual khusus yang harus dilakukan. Salah satunya bertirakat, acara tahlilan yang ditujukan kepad sesepuh empu Aeng Tongtong dan ritual yang lain.

  • 3
    Shares

Facebook Comments