Ini Desa Perajin Keris di Sumenep
Cultural Treasures, Get Inspired, Headline, Hot News

Diawali Puasa 123 Hari, Ini Kejayaan Keris Aeng Tongtong Dari Masa ke Masa

VISITSUMENEP.com – Pusaka yang merupakan warisan leluhur, seperti keris dan sejenisnya, tidak hanya dikenal oleh masyarakat nusantara. Para pengrajin pun atau yang dikenal dengan sebutan empu telah mendapat pengakuan dari United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (Unesco).

Satu-satunya daerah di Indonesia yang mendapat pengakuan dari Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB tersebut, adalah Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur.

Di tahun 2012, pihak Unesco mencatat hingga 648 empu yang ada di wilayah Sumenep dan hingga saat ini mereka masih eksis dalam pembuatan berbagai jenis pusaka, semisal keris.

Para pembuat keris tersebut, saat ini terpusat di Desa Aeng Tongtong, Kecamatan Saronggi, Sumenep. Selain itu, ada di wilayah Kecamatan Lenteng dan Bluto.

Dalam proses pembuatan pusaka hingga cara menjaga dan merawatnya, warga setempat tetap mengikuti tata cara yang ditularkan oleh para empu kepada kadernya.

Hari ini, Minggu, 16 September 2018, warga Desa Aeng Tongtong sedang melangsungkan jamas keris (penjamasan) atau pembersihan pusaka milik warga dan Pusaka Keraton Sumenep.

Bupati Sumenep, A Busyro Karim menyebutkan, keberadaan keris atau pusaka lainnya yang dihasilkan oleh para pengrajin atau empu Aeng Tongtong sudah dikenal dari masa ke masa.

“Pada saat kerajaan Sumenep berjaya hingga memiliki 35 raja, pusaka keris Aeng Tongtong menjadi andalannya. Para raja saat itu sudah ada komunikasi dengan empu di sini,” katanya saat menyampaikan sambutan pada acara jamas keris.

Bahkan, para raja tidak sedikit memesan keris dari yang dihasilkan para empu keris Aeng Tontong. “Bayangkan, Sumenep saat ini sudah berusia 748 tahun,” ujarnya.

Dari berbagai referensi yang didapat oleh orang nomor satu di Sumenep itu, proses pembuatan pusaka oleh para empu diawali dengan puasa yang cukup lama, baru membuat pusaka.

“Setidaknya berpuasa selama 123 hari, baru para empu itu memulai membuat keris. Melalui jamasan keris ini, mari kita semua menjaga dan melestarikan budaya leluhur itu,” ajak Busyro.

Politisi PKB ini mengungkapkan, keberadaan keris Aeng Tongtong tidak hanya dikenal pada zaman kerajaan, pada zaman penjajahan Belanda juga menjadi pusat pemesanan pusaka.

“Sudah sejak dulu, keris-keris Aeng Tongtong sudah sampai di Belanda, Thailand dan Amerika Serikat. Jadi, keberadaan keris Aeng Tongtong ini bukan hal baru,” tandasnya.

Masa Suram

Bupati Sumenep, A Busyro Karim menyebutkan, keberadaan keris Aeng Tongtong sempat mengalami masa suram, yakni ketika masa kemerdekaan.

Para pembuat keris banyak yang beralih profesi menjadi petani. Lahan pertanian yang ada mulai digarap dan dinilai menjanjikan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. “Karena pada waktu masa kemerdekaan, pemasaran keris memang sedang lesu,” ujarnya.

Untungnya, tidak semua warga meninggalkan untuk membuat keris. Sebagian masih ada yang menggeluti sehingga keberadaannya tetap terjaga.

“Pada tahun 70-an, pemasaran keris mulai bergerak lagi. Masyarakat memulai kembali untuk menekuni dalam pembuatan keris. Dan Desa Aeng Tongtong juga sempat dijadikan lokasi penelitian keris,” katanya.

Janjikan Peningkatan Ekonomi

Pemerintah Daerah Kabupaten Sumenep menjanjikan peningkatan ekonomi masyarakat melalui kerajinan keris yang tetap ditekuni oleh warga Desa Aeng Tongtong.

“Saat ini, sudah banyak wisatawan, baik lokal maupun mancanegara yang sudah berkunjung ke sentra keris Aeng Tongtong. Ini menandakan akan mendorong peningkatan ekonomi warga,” jelas Busyro Karim.

Kedepan, sambungnya, seiring dengan program Visit Sumenep 2018, pemerintah daerah telah mempersiapkan banyak even.

Pemerintah Daerah Kabupaten Sumenep menjanjikan peningkatan ekonomi masyarakat melalui kerajinan keris yang tetap ditekuni oleh warga Desa Aeng Tongtong.

“Saat ini, sudah banyak wisatawan, baik lokal maupun mancanegara yang sudah berkunjung ke sentra keris Aeng Tongtong. Ini menandakan akan mendorong peningkatan ekonomi warga,” jelas Busyro Karim.

Kedepan, sambungnya, seiring dengan program Visit Sumenep 2018, pemerintah daerah telah mempersiapkan banyak even.

Bahkan pada bulan Oktober ada Festival Keraton dan Masyarakat Adat se-ASEAN. “Insya Allah juga akan dihadiri Presiden. Ini pasti banyak tamu yang akan datang,” ucapnya.

Selain itu, ada pameran keris internasional dan peresmian Museum Pusaka Sumenep serta akan ada tamu sebanyak 53 ribu pada acara hari guru nasional yang akan ditempatkan di Sumenep.

“Jadi, ke depan tentu akan banyak tamu yang akan datang ke sini dan pasti membutuhkan pusaka. Maka, jadilah tuan rumah yang baik sehingga tamu aman dan nyaman,” tandas Busyro.

Sementara, Panitia Penjamasan, Wawan Novianto berjanji akan menyajikan yang terbaik untuk jamas keris setiap tahunnya. Namun, pihaknya juga meminta ada dukungan dari pemerintah daerah.

“Kami akan terus berbenah. Penjamasan pusaka tentu akan terus dilakukan setiap tahun. Ini murni berkat dukungan masyarakat di sini,” katanya. (portalmadura/fairozi)

  • 16
    Shares

Facebook Comments